Satu Dekade Sipadan Lepas dari Pangkuan

SENIN, 17 Desember 2002, sebanyak 17 hakim Mahkamah Internasional bersidang untuk memutus sengketa perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, terkait dengan Pulau Sipadan dan Ligitan.

Di sidang terakhir 10 tahun lalu tersebut, 16 dari 17 hakim itu menjatuhkan pilihan mereka kepada Malaysia untuk menguasai Sipadan dan Ligitan. Malaysia dan kolonial Inggris dianggap lebih efektif merawat dan menjaga Sipadan jika dibandingkan dengan Indonesia.

Padahal, sebenarnya Indonesia memiliki peluang yang sama besar dengan Malaysia untuk memiliki Sipadan dan Ligitan. Saya masih ingat betul komentar dari Nana Sutresna, penasihat luar negeri presiden kala itu, yang menyayangkan argumentasi-argumentasi dalam persidangan yang tidak disertai langkah nyata di lapangan.

Sepuluh tahun berlalu, Sipadan kembali menjadi perhatian dunia. Bukan karena adanya sengketa baru, melainkan karena harumnya nama pulau di utara Kalimantan itu di dunia pariwisata internasional. Situs wisata Lonely Planet menempatkan Sipadan sebagai salah satu dari 10 destinasi selam terbaik di dunia.

Penilaian serupa diberikan koran Inggris The Telegraph yang menempatkan Sipadan sebagai salah satu dari 10 tempat wisata terbaik di dunia, bersanding dengan Blue Hole di Belize dan Pulau Cocos di Kosta Rika.

Karena penasaran dengan kemasyhuran itu, saya mengunjungi Sipadan, pekan lalu. Begitu menginjakkan kaki di pulau seluas 50 ribu meter persegi tersebut, saya tidak merasa ada yang istimewa yang tampak di daratannya.

Sipadan hanya tampak seperti pulau kecil, berpasir putih, tidak berpenghuni, dan ditumbuhi hutan liar. Letaknya pun berjauhan dari pulau-pulau lain. Hanya ada beberapa pondok didirikan di atas pulau. Pondok-pondok itu menjadi pos bagi tentara, polisi laut, dan petugas taman nasional.

Seusai berkeliling pulau, saya memutuskan untuk menyelam, melihat apa yang ada di balik perairan Sipadan. Baru 3 meter saya memasuki laut, saya langsung disambut ribuan jack fish yang sedang berenang berputar-putar. Begitu banyak jumlahnya hingga membuat laut menjadi gelap.

Oleh Prita Laura, Jurnalis Metro TV & Mahasiswa Pascasarjana STP Trisakti Batch 4


 

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/12/18/370861/127/101/Satu-Dekade-Sipadan-Lepas-dari-Pangkuan

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google PlusSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn

Comments   

 
Cisca
+1 #2 Cisca 2013-06-14 17:37
Well Prita, rasanya disana ada benteng (yg mana sebagai bukti okupasi). Rasanya akan menarik jika anda membahas masalah itu. Saya curious sekali, karena itu skripsi saya saat S1
Quote
 
 
Mike
+1 #1 Mike 2013-03-01 14:30
Pelajaran yang sangat berharga untuk bangsa Indonesia, kepemilikan yang tidak di rawat adalah hal sia-sia
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

1475882
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
105
253
358
1446217
8618
21160
1475882

Your IP: 107.20.120.65
Server Time: 2017-12-18 09:02:15

Campus Locations

 

Copyright © 2017 www.stptrisakti.net. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.
Back to Top